Selasa, 17 November 2009

Tugas KKP Karwis

OPTIMALISASI PENGUNAAN KOMUNIKASI INTELEGENT INTERCONECT
DI KOHANUDNAS DALAM RANGKA MENDUKUNG OPERASI PERTAHANAN UDARA NASIONAL PADA LIMA TAHUN MENDATANG


PENDAHULUAN


1. Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai wilayah yang sangat luas sehingga memerlukan system pengamanan wilayah udara yang sempurna dalam upaya pengamanan untuk menjaga kedaulatan serta keselamatan bangsa secara serius. Dalam rangka menghadapi ancaman dan pelanggaran wilayah udara dari negara lain, Komando Pertahanan Udara Nasional sebagai bagian integral dari Tentara Nasional Indonesia mempunyai tugas pokok selaku penegak kedaulatan Negara di udara, mempertahankan keutuhan wilayah udara nasional dan integritas bangsa bersama-sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan Negara lainnya, serta menyelenggarakan penegakan hukum di wilayah udara nasional.

2. Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) selaku Komando Utama Operasi (Kotama Ops) TNI yang mempunyai jalur koordinasi dengan TNI Angkatan Udara adalah organisasi yang paling bertanggung jawab dan memegang peranan penting dalam penyelenggaraan Sishanudnas. Dimana salah satu bentuk kegiatan operasional Kohanudnas adalah kegiatan operasi pengamatan wilayah udara nasional (Ops Matud) sepanjang tahun dalam kondisi negara aman atau negara berada dalam ancaman. Operasi pengamatan udara sendiri merupakan bagian integral dari operasi pertahanan udara nasional. Ops pengamatan udara tersebut dimulai dari tahap kegiatan pendeteksian, pengidentifikasian sampai tahap penindakan terhadap pelaku pelanggaran udara nasional. Dalam kondisi negara aman maka operasi pengamatan udara atau operasi pertahanan udara lebih dititik beratkan pada pengamatan udara yang dilakukan oleh Radar Hanud dalam waktu tertentu. Namun dalam situasi dimana negara mendapatkan ancaman, yaitu ancaman lewat udara maka Ops Hanud dilaksanakan

selama 24 jam terus menerus untuk mencegah pesawat tempur lawan menerobos masuk wilayah udara NKRI. Semua sistim senjata mulai dari Radar, pesawat penyergap, rudal anti pesawat sampai meriam anti pesawat udara disiagakan.

3. Salah satu peranan penting untuk mendukung semua system senjata guna kelancaran operasi Pertahanan Udara Nasional diperlukan dukungan alat komunikasi sebagai sarana kodal yang dapat mengintegrasikan sistim komunikasi dengan jajaran Kohanudnas, seperti Integrasi komunikasi dengan Teknologi Informasi yang dimiliki Kohanudnas memiliki kemampuan dapat mengintegrasikan system komunikasi yang terdiri dari GTA UHF (Ground To Air Ultra High Frequency), GTA VHF (Ground To Air Very High Frequency), UHF Base Station, Komsat SBM K3I (Stasion Bumi Mini Komando Kendali Komuikasi dan Informasi) dan PABX (Private Automatic Brance Excange) Telepon, sehingga untuk mengendalikan Operasi Pertahanan Udara Nasional Panglima dengan mudah mengontrol, mengendalikan jalannya Operasi dan Latihan baik dari darat ke udara atau pesawat tempur maupun ke seluruh jajaran Kohanudnas dimanapun berada dengan menggunakan Radio, Telepon dan Komsat semuanya dapat diintegrasikan. Kohanudnas sebagai pelaksana operasi pertahanan udara nasional yang memerlukan dukungan alat komunikasi yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan sebagai sarana kodal, Kohanudnas telah mengintegrasikan beberapa alat komunikasi yang berbeda seperti radio, telepon dan komsat di 12 jajaran dan 2 CMOB/KOMOB (Comunication Monitoring Observasi Vehicle/Komunikasi Mobile) yaitu Kohanudnas, dua CMOV/KOMOB di Kohanudnas, 4 Kosehanudnas, 7 Satrad yang berkemampuan GCI ( Ground Control Interception) dan satuan radar yang telah memiliki jaringan SBM K3I (Stasiun Bumi Mini Komando Kendali Komunikasi dan Informasi). Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Kohanudnas sudah dapat beroperasi dengan baik namun untuk mendukung pelaksanaan operasi pertahanan udara nasional masih perlu dioptimalkan.

4. Dengan terbatasnya sumber daya personel, piranti lunak dan sarpras yang tersedia dan dihadapkan dengan tuntutan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan, guna mendukung terselenggaranya operasi pertahanan udara nasional untuk menjaga kedaulatan Republik Indonesia, maka diperlukan suatu upaya agar memaksimalkan penggunaan Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect di Kohanudnas. Selama ini permasalahan komunikasi menjadi salah satu peran dalam mendukung operasi pertahanan udara nasional, sehingga menyebabkan perlu adanya penanganan dukungan komunikasi untuk operasi dan latihan yang tidak berjalan dengan optimal,sehingga dipandang perlu dan sudah tepat saatnya jika Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect dioptimalkan dengan mengembangkan sistem jaringan sebagai sarana kodal pada penyelenggaraan sistim pertahanan udara nasional. Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect harus diawaki oleh para personel yang mempunyai kemampuan, dedikasi dan tingkat disiplin yang tinggi karena mengoperasionalkan Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect disamping dapat mengoperasikan personel dituntut mampu mengetahui kondisi kesiapan Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect sehingga bila terjadi kerusakan minimal dapat mengetahui tingkat kerusakannya hingga tingkat I atau II dan selanjutnya dilaporkan ke satuan atas untuk ditindaklanjuti.

5. Maksud dan Tujuan. Maksud dari penulisan naskah ini adalah untuk memberikan gambaran kepada pimpinan tentang pengunaan teknologi informasi di kohanudnas dalam rangka mendukung operasi pertahanan udara nasional dengan tujuan agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau masukan guna menentukan kebijaksanaan yang berhubungan dengan dukungan sistem pertahanan udara nasional pada masa mendatang.

6. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Ruang lingkup penyusunan naskah ini membahas pengunaan teknologi informasi di kohanudnas dalam rangka mendukung operasi pertahanan udara nasional dengan tata urut disusun sebagai berikut :

a. Pendahuluan

b. Profile Kohanudnas

c. Peran Teknologi Informasi bagi Kohanudnas

d. Manfaat bagi TNI Angkatan Udara

e. Penutup.


PROFILE KOHANUDNAS


7. Kondisi Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect saat ini. Dimana Kohanudnas sebagai pelaksana operasi pertahanan udara nasional yang memerlukan dukungan alat komunikasi yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan sebagai sarana kodal, Kohanudnas telah memiliki alat komunikasi yang dapat mengintegrasikan beberapa alat komunikasi yang berbeda seperti radio, telepon dan komsat dan telah diintegrasikan di 12 satuan yaitu Kohanudnas dan 2 CMOB/KOMOB (Comunication Monitoring Observasi Vehicle/Komunikasi Mobile), 4 Kosehanudnas, 7 Satuan Radar yang berkemampuan GCI ( Ground Control Interception) dan satuan yang telah memiliki jaringan SBM K3I (Stasiun Bumi Mini Komando Kendali Komunikasi dan Informasi) sebagai media transmisi disamping telepon telekom. Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Kohanudnas saat ini :

a. Kualitas Sumber Daya Manusia Masih Terbatas. Guna meningkatkan dukungan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect harus diawaki oleh para personel yang mempunyai kemampuan, dedikasi dan tingkat disiplin yang tinggi karena mengoperasionalkan Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect disamping dapat mengoperasikan, juga personel dituntut mampu mengetahui kondisi kesiapan Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect sehingga bila terjadi kerusakan minimal dapat mengetahui tingkat kerusakannya hingga tingkat I dan II dan selanjutnya dilaporkan ke satuan atas untuk ditindaklanjuti. Oleh karena terbatasnya sumber daya personel yang mampu mengawaki Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect khusnya jajaran Kohanudnas sehingga operasional Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect belum maksimal. Kondisi personel satuan pengguna saat ini dapat dijelaskan sebagai berikut :


1) Pengetahuan dan Kemampuan Personel yang Kurang. Tenaga teknisi dan operatorIntegrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect
belum mengalami pendidikan. Sehingga pengetahuan yang dimiliki belum sesuai dengan yang diharapkan, karena selama mengikuti sekolah atau kursus tentang ilmu elektro, ilmu yang diperoleh hanya berupa teori-teori, sementara itu untuk pelaksanaan praktek akan dilaksanakan di Satuan. Kondisi tsb mengakibatkan pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki sangat terbatas pada pengetahuan yang bersifat teoritis, sehingga untuk menambah pengetahuan yang telah mereka miliki dibutuhkan waktu yang relatif lama, yang dapat diperoleh melalui pengalaman tugas sehari-hari maupun melalui pendidikan non formal yang dilaksanakan di satuan pada waktu-waktu tertentu. Selain hal diatas, ada beberapa tugas tertentu yang harus dilaksanakan oleh seorang personel, karena tidak dibekali dengan kualifikasi pendidikan yang seharusnya dimiliki maka tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya tidak dapat terlaksana secara baik. Kemudian kemampuan berbahasa Inggris yang dimiliki personel yang ada dirasa sangat kurang dalam mendukung tugas-tugas yang diembannya. Kemampuan bahasa Inggris yang kurang merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat mereka untuk memahami buku-buku manual yang ada, karena dalam pelaksanaan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan perbaikan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

2) Jumlah Personel Tidak Sesuai DSP. Satuan Pengguna Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect, dimana personel yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu elektronika baik itu radar maupun komunikasi dalam pelaksanaan operasinya setiap hari melibatkan personel teknik, operasi dan pendukung, yang jumlahnya terbatas sekali, sehingga untuk mengawaki Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect masih melibatkan personel diluar bidang komunikasi dan sangat mempengaruhi dalam pelaksanaan dukungan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect baik itu pengoperasian serta pemeliharaan, sehingga sering terjadi penumpukan tugas yang terjadi dilapangan dan menggangggu jadwal shift operasi maupun kegiatan pemeliharaan yang telah direncanakan oleh satuan.

3) Disiplin dan Kinerja Personil Rendah. Tingkat kedisiplinan dan semangat kerja personil umumnya rendah, sehingga perlu usaha, tindakan, kegiatan untuk membentuk, memelihara serta meningkatkan disiplin berdasarkan ketentuan / peraturan disiplin yang berlaku, yang mana hal ini diakibatkan oleh kejenuhan dalam bertugas, kondisi perekonomian yang tidak stabil, serta kondisi lingkungan yang jauh dari pemenuhan sarana kebutuhan hidup.

b. Sarana Prasarana Belum Optimal. Untuk mendukung penggelaran penggelaran Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect diperlukan adanya sarana prasarana yang lengkap dimana kondisi sarana prasarana Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect saat ini belum optimal dapat dijelaskan sebagai berikut :

1) Peralatan Komunikasi. Kodisi peralatan komunikasi yang tergelar pada satuan radar sudah banyak yang rusak dan kemampuannya untuk penggelaran komunikasi sudah seharusnya sudah diganti karena alat komunikasi kondisinya sudah lama, sehingga tidak dapat di Integrasikan dengan Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect seperti radio Repeter yang tergelar pada sebagian satrad sudah tidak dapat beroperasi dengan maksimal akibat kemampuannya sudah lama yang seharusnya sudah diganti dan radio VHF/UHF yang tergelar pada satuan satrad kondisinya sangat minim serta kemampuannya sudah tidak maksimal lagi.

2) Sarana SBM K3I. Salah satu sarana kodal utama Kohanudnas adalah SBM K3I alat komunikasi satelit yang khusus dimiliki Kohanudnas untuk mengendalikan satuan jajaranya namun masih ada beberapa satuan radar yang belum tergelar SBM K3I, sehingga untuk mengintegrasikan dengan Inteligent Interconect harus ada sarana SBM K3I yang lebih aman dan bebas dari biaya penggunaan pulsa telekom (T-15) sebagai media transmisi yang dapat menghubungkan antara alat komunikasi yang satu dengan yang lainnya dan bila satuan yang belum tergelar SBM K3I dapat menggunakan alternatif lain yaitu dengan saluran telepon telkom namun membutuhkan biaya penggunaan pulsa cukup banyak.

3) Peralatan Pendukung Terbatas. Guna memperlancar satu kegiatan pemeliharaan tidak lepas dari standart peralatan yang mendukung, salah satunya adalah alat ukur presisi yang digunakan untuk mengukur power, signal dan pulsa dari modul atau card serta komponen-komponen lainnya. Kondisi alat ukur presisi saat ini jumlahnya tidak memenuhi standart kebutuhan pemeliharaan, disamping kualitasnya yang kurang memadai karena degradasi peralatan, juga sudah sangat ketinggalan jaman yang mana akan berpengaruh pada tingkat efisiensi serta efektifitas pemeliharaan. Kemudian peralatan-peralatan pendukung lainnya seperti Tool-Kit belum dilengkapi.

c. Alokasi Integrasi Komuniksi dengan Inteligent Interconect yang Belum Optimal. Untuk mendukung operasi pertahanan udara nasional telah digelar alat komunikasi yang dapat mengintegrasikan beberapa alat komunikasi yaitu di Kohanudnas, CMOB (Communication Monitoring Observasi Vehicle) 2 (dua), Kosekhanudnas 4 (empat), Satrad 7 (tujuh) yang berkemampuan GCI (Ground Control Intercept) dan jajaran yang sudah tergelar jaringan SBM K3I (Stasiun Bumi Mini Komando Kendali Komunikasi dan Informasi) Hanudnas. Untuk mengendalikan seluruh jajaran Kohanudnas belumlah optimal dikarenakan masih ada 10 (sepuluh) Satrad yang belum terintegrasi akibat keterbatasan anggaran serta sarana prasarana.


PERAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI KOHANUDNAS


8. Kesiapan operasional Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi di Kohanudnas serta jajarannya, sehingga memandang perlu memperhatikan peran dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi turunnya kemampuan peralatan Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi, untuk meningkatkan kesiapan operasional Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi dalam rangka untuk mendukung operasi pertahanan udara nasional. Adapun peran Teknologi Informasi yang harus dilaksanakan adalah :

1) Dapat Mengoperasikan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Menggunakan System Rremote Control. Pada proses pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi pada penyelenggaraan operasi dan latihan dapat dioptimalkan dari sistim manual operator menjadi sistim remote control sehingga tanpa pengawakan personel yang mengatur lalu lintas komunikasi, yaitu dapat melakukan pengecekan,perbaikan, mengganti software atau modul yang lebih efektif, sehingga pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi dapat beroperasi dengan optimal.

2) Dapat Menggunakan, Mengganti, dan Mengadakan Pengecekan Peralatan Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi. Pada pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan operasi dan latihan yang telah dilakukan oleh Kohanudnas sebagai penyelenggara pertahanan udara nasional. Dapat melakukan penggantian software, modul yang lebih efektif, sehingga pada saat proses penyambungan Teknologi Informasi baik itu pada saat terhubung dengan pesawat maupun antara jajaran pengguna tidak terlalu lama sehingga dapat beroperasi dengan optimal.

3) Dapat Melakukan Pengecekan dan Perbaikan Serta Mengganti Software Alkom VHF (Very HighFrequency) Sehingga Pada Saat Terhubung dengan Pesawat Tempur, Output Tidak Mengganggu Alkom Bandara Setempat. Pada saat proses pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect antara Kohanudnas, Kosekhanudnas dan Satrad-satrad dengan pesawat tempur komunikasi dapat mengganggu alat komunikasi bandara udara setempat, sehingga untuk mengoptimalkan Inteligent Interconect dapat melakukan peran pengecekan, perbaikan serta mengganti software dan modul-modul yang digunakan Integrasi komuniksi dengan Teknologi Intercorect sehingga komunikasi dengan pesawat tempur berjalan dengan baik dan proses penyelenggaraan dukungan kodal operasi dan latihan berjalan dengan optimal sehingga dukungan penyelenggaraan sistim pertahanan udara nasional berlangsung dengan optimal.


MANFAAT BAGI TNI ANGKATAN UDARA


9. Kondisi mendatang yang diharapkan terjadi pada Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect yaitu terciptanya suatu Integrasi Komunikasi yang handal dan dapat berfungsi sebagai kodal yang dapat mengatasi permasalahan dibidang komunikasi. Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect yang dapat mendukung penyelenggaraan sistim pertahanan udara nasional. Diharapkan dengan Integrasi komunikasi dengan Intelegent Interconect seluruh satuan jajaran Kohanudnas dapat dikendalikan lewat saran kodal ini guna dapat mendukung dalam rangka mempertahankan kedaulatan wilayah udara nasional terhadap setiap ancaman udara dan terlaksana dengan baik dan optimal. Manfaat Integrasi Komunikasi dengan Intelegent Interconect bagi TNI AU sebagai berikut :

a. Integrasi Komuniksi Dengan Inteligent Interconect Dalam Mendukung Operasi Kohanudnas Sudah Tidak Manual Operator. Kondisi Integrasi Komunikasi dengan Intelegent Interconect guna mendukung tercapainya sistem pertahanan udara nasional diperlukan suatu sistim komunikasi yang dapat mengintegrasikan dari berbagai jenis alat komunikasi seperti yang terdapat di Kohanudnas. Seiring dengan kemajuan teknologi maka sistim Integrasi Komunikasi dengan Intelegent Interconect tersebut semakin meningkat. Kemampuan operasionalnya dengan sistim yang tidak manual lagi, akan tetapi dioptimalkan menjadi sistim otomatis dengan tanpa dikendalikan melalui personel operator yang selalu standby dengan melakukan perubahahan, perbaikan, atau penggantian pada software atau modul yang terdapat pada Inteligent Interconect .

b. Pengoperasian Integrasi Komuniksi Dengan Inteligent Interconect Dengan VHF (Very High Frequency) Output Tidak Mengganggu Alat Komunikasi Luar Khususnya Bandara Setempat. Didalam pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Intelegent Interconect guna mendukung operasi pertahanan udara nasional baik itu kegiatan operasi maupun latihan yang telah dilakukan oleh Kohanudnas sebagai penyelenggara sistim pertahanan udara nasional. Pengoperasian Integrasi komuniksi dengan Intelegent Interconect pada radio GTA VHF (Ground To Air Very High Frequency) pada saat operasi atau latihan output tidak mengganggu lagi alat komunikasi bandara setempat, yaitu dengan melakukan pengecekan, penggantian,perbaikan software serta mengganti/memperbaiki modul / peralatan yang lebih baik lagi sehingga Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect dapat beroperasi dengan optimal.

c. Pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Dengan PABX (Private Automatic Brance Excange) Bisa Kontinyu Tersambung. Didalam pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Integrasi Interconect memerlukan suatu komunikasi satelit(komsat) sebagai media tranmisi yang dapat menghubungkan dengan satuan-satuan jajaran Kohanudnas, sehingga terselenggara suatu dukungan kodal sistim pertahanan udara nasional dengan komsat disambungkan lewat PABX (Private Automatic Brance Excange) dapat dioptimalakan lagi dengan proses penyambungan yang sudah kontinyu, tidak lagi terputus pada saat pengoperasian berlangsung atau selama 3 menit tidak ada voice. Dengan melakukan pengecekan, perbaikan serta penggantian software, module yang dimiliki menjadi lebih baik lagi, sehingga Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect dapat mendukung terselenggaranya sistim pertahanan udara nasional serta dapat berjalan dengan optimal.


KESIMPULAN DAN SARAN


10. Kesimpulan. Dari seluruh penjabaran naskah Optimalisasi Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Kohanudnas dalam rangka mendukung operasi pertahanan udara nasional pada masa lima tahun mendatang dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

a. Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi saat ini di Kohanudnas masih kurang baik sehingga masih perlu dioptimalkan guna mendukung operasi pertahanan udara nasional, hal ini di tersebut disebabkan karena :

1) Pada saat pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect masih sistem manual operator sehingga memerlukan waktu

2) Pada proses penyambungan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect outputnya dapat mengganggu alat komunikasi dan jalur penerbangan bandara setempat.

3) Pada saat proses penyambungan lewat PABX Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect tidak bisa kontinyu tersambung, dimana bila proses integrasi komunikasi sudah berjalan namun selama tiga menit tidak input maka sistem terputus, sehingga memerlukan waktu lagi untuk melakukan penyambungan lewat operator PABX.

4) Sarana Prasarana Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect masih belum optimal karena peralatan kumunikasi masih minim, kondisinya sudak lama serta sudah banyak yang rusak ,SBM K3I belum semua tergelar sehingga sulit untuk diintegrasikan dengan Inteligent Interconect.

5) Alokasi Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect di Kohanudnas dan Jajarannya saat ini belum optimal karena dari 21 satuan Hanudnas baru tergelar 12 Inteligent Interconect , sehingga untuk mendukung operasi pertahanan udara nasional saat ini belum optimal karena masih ada 10 satuan radar yang belum terintegrasi dengan Inteligent Interconect.

6) Saluran/Slot Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect di Kohanudnas dan Jajarannya saat ini belum optimal karena baru terintegrasi 5 (lima) slot yaitu Radio GTA VHF AM, UHF AM, UHF FM , SBM K3I dan Telepon Telekom (PABX), sehingga untuk mendukung operasi pertahanan udara nasional masih ada radio kodal Kohanudnas yang belum di integrasikan yaitu radio HF SSB.

b. Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect di Kohanudnas dapat dioptimalkan dengan melakukan peran secara sinergi dari semuah pihak yang terlibat.

11. Saran. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect guna mendukung operasi pertahanan udara nasional, maka disarankan untuk :

a. Mensosialisasikan penggunaan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent
Interconect kepada satuan pengguna.

b. Memamfaatkan sarana Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect sebagai sarana komunikasi utama.

c. Mengupayakan agar radio HF SSB diintegrasikan dengan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect.


PENUTUP


11. Demikian naskah ini dibuat sebagai bahan masukan kepada Pimpinan sebagai pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan Operasi Pertahanan Udara Nasional Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar