OPTIMALISASI PENGUNAAN KOMUNIKASI INTELEGENT INTERCONECT
DI KOHANUDNAS DALAM RANGKA MENDUKUNG OPERASI PERTAHANAN UDARA NASIONAL PADA LIMA TAHUN MENDATANG
PENDAHULUAN
1. Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai wilayah yang sangat luas sehingga memerlukan system pengamanan wilayah udara yang sempurna dalam upaya pengamanan untuk menjaga kedaulatan serta keselamatan bangsa secara serius. Dalam rangka menghadapi ancaman dan pelanggaran wilayah udara dari negara lain, Komando Pertahanan Udara Nasional sebagai bagian integral dari Tentara Nasional Indonesia mempunyai tugas pokok selaku penegak kedaulatan Negara di udara, mempertahankan keutuhan wilayah udara nasional dan integritas bangsa bersama-sama dengan segenap komponen kekuatan pertahanan Negara lainnya, serta menyelenggarakan penegakan hukum di wilayah udara nasional.
2. Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) selaku Komando Utama Operasi (Kotama Ops) TNI yang mempunyai jalur koordinasi dengan TNI Angkatan Udara adalah organisasi yang paling bertanggung jawab dan memegang peranan penting dalam penyelenggaraan Sishanudnas. Dimana salah satu bentuk kegiatan operasional Kohanudnas adalah kegiatan operasi pengamatan wilayah udara nasional (Ops Matud) sepanjang tahun dalam kondisi negara aman atau negara berada dalam ancaman. Operasi pengamatan udara sendiri merupakan bagian integral dari operasi pertahanan udara nasional. Ops pengamatan udara tersebut dimulai dari tahap kegiatan pendeteksian, pengidentifikasian sampai tahap penindakan terhadap pelaku pelanggaran udara nasional. Dalam kondisi negara aman maka operasi pengamatan udara atau operasi pertahanan udara lebih dititik beratkan pada pengamatan udara yang dilakukan oleh Radar Hanud dalam waktu tertentu. Namun dalam situasi dimana negara mendapatkan ancaman, yaitu ancaman lewat udara maka Ops Hanud dilaksanakan
selama 24 jam terus menerus untuk mencegah pesawat tempur lawan menerobos masuk wilayah udara NKRI. Semua sistim senjata mulai dari Radar, pesawat penyergap, rudal anti pesawat sampai meriam anti pesawat udara disiagakan.
3. Salah satu peranan penting untuk mendukung semua system senjata guna kelancaran operasi Pertahanan Udara Nasional diperlukan dukungan alat komunikasi sebagai sarana kodal yang dapat mengintegrasikan sistim komunikasi dengan jajaran Kohanudnas, seperti Integrasi komunikasi dengan Teknologi Informasi yang dimiliki Kohanudnas memiliki kemampuan dapat mengintegrasikan system komunikasi yang terdiri dari GTA UHF (Ground To Air Ultra High Frequency), GTA VHF (Ground To Air Very High Frequency), UHF Base Station, Komsat SBM K3I (Stasion Bumi Mini Komando Kendali Komuikasi dan Informasi) dan PABX (Private Automatic Brance Excange) Telepon, sehingga untuk mengendalikan Operasi Pertahanan Udara Nasional Panglima dengan mudah mengontrol, mengendalikan jalannya Operasi dan Latihan baik dari darat ke udara atau pesawat tempur maupun ke seluruh jajaran Kohanudnas dimanapun berada dengan menggunakan Radio, Telepon dan Komsat semuanya dapat diintegrasikan. Kohanudnas sebagai pelaksana operasi pertahanan udara nasional yang memerlukan dukungan alat komunikasi yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan sebagai sarana kodal, Kohanudnas telah mengintegrasikan beberapa alat komunikasi yang berbeda seperti radio, telepon dan komsat di 12 jajaran dan 2 CMOB/KOMOB (Comunication Monitoring Observasi Vehicle/Komunikasi Mobile) yaitu Kohanudnas, dua CMOV/KOMOB di Kohanudnas, 4 Kosehanudnas, 7 Satrad yang berkemampuan GCI ( Ground Control Interception) dan satuan radar yang telah memiliki jaringan SBM K3I (Stasiun Bumi Mini Komando Kendali Komunikasi dan Informasi). Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Kohanudnas sudah dapat beroperasi dengan baik namun untuk mendukung pelaksanaan operasi pertahanan udara nasional masih perlu dioptimalkan.
4. Dengan terbatasnya sumber daya personel, piranti lunak dan sarpras yang tersedia dan dihadapkan dengan tuntutan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan, guna mendukung terselenggaranya operasi pertahanan udara nasional untuk menjaga kedaulatan Republik Indonesia, maka diperlukan suatu upaya agar memaksimalkan penggunaan Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect di Kohanudnas. Selama ini permasalahan komunikasi menjadi salah satu peran dalam mendukung operasi pertahanan udara nasional, sehingga menyebabkan perlu adanya penanganan dukungan komunikasi untuk operasi dan latihan yang tidak berjalan dengan optimal,sehingga dipandang perlu dan sudah tepat saatnya jika Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect dioptimalkan dengan mengembangkan sistem jaringan sebagai sarana kodal pada penyelenggaraan sistim pertahanan udara nasional. Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect harus diawaki oleh para personel yang mempunyai kemampuan, dedikasi dan tingkat disiplin yang tinggi karena mengoperasionalkan Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect disamping dapat mengoperasikan personel dituntut mampu mengetahui kondisi kesiapan Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect sehingga bila terjadi kerusakan minimal dapat mengetahui tingkat kerusakannya hingga tingkat I atau II dan selanjutnya dilaporkan ke satuan atas untuk ditindaklanjuti.
5. Maksud dan Tujuan. Maksud dari penulisan naskah ini adalah untuk memberikan gambaran kepada pimpinan tentang pengunaan teknologi informasi di kohanudnas dalam rangka mendukung operasi pertahanan udara nasional dengan tujuan agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan atau masukan guna menentukan kebijaksanaan yang berhubungan dengan dukungan sistem pertahanan udara nasional pada masa mendatang.
6. Ruang Lingkup dan Tata Urut. Ruang lingkup penyusunan naskah ini membahas pengunaan teknologi informasi di kohanudnas dalam rangka mendukung operasi pertahanan udara nasional dengan tata urut disusun sebagai berikut :
a. Pendahuluan
b. Profile Kohanudnas
c. Peran Teknologi Informasi bagi Kohanudnas
d. Manfaat bagi TNI Angkatan Udara
e. Penutup.
PROFILE KOHANUDNAS
7. Kondisi Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect saat ini. Dimana Kohanudnas sebagai pelaksana operasi pertahanan udara nasional yang memerlukan dukungan alat komunikasi yang dapat menyesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan sebagai sarana kodal, Kohanudnas telah memiliki alat komunikasi yang dapat mengintegrasikan beberapa alat komunikasi yang berbeda seperti radio, telepon dan komsat dan telah diintegrasikan di 12 satuan yaitu Kohanudnas dan 2 CMOB/KOMOB (Comunication Monitoring Observasi Vehicle/Komunikasi Mobile), 4 Kosehanudnas, 7 Satuan Radar yang berkemampuan GCI ( Ground Control Interception) dan satuan yang telah memiliki jaringan SBM K3I (Stasiun Bumi Mini Komando Kendali Komunikasi dan Informasi) sebagai media transmisi disamping telepon telekom. Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Kohanudnas saat ini :
a. Kualitas Sumber Daya Manusia Masih Terbatas. Guna meningkatkan dukungan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect harus diawaki oleh para personel yang mempunyai kemampuan, dedikasi dan tingkat disiplin yang tinggi karena mengoperasionalkan Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect disamping dapat mengoperasikan, juga personel dituntut mampu mengetahui kondisi kesiapan Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect sehingga bila terjadi kerusakan minimal dapat mengetahui tingkat kerusakannya hingga tingkat I dan II dan selanjutnya dilaporkan ke satuan atas untuk ditindaklanjuti. Oleh karena terbatasnya sumber daya personel yang mampu mengawaki Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect khusnya jajaran Kohanudnas sehingga operasional Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect belum maksimal. Kondisi personel satuan pengguna saat ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Pengetahuan dan Kemampuan Personel yang Kurang. Tenaga teknisi dan operatorIntegrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect
belum mengalami pendidikan. Sehingga pengetahuan yang dimiliki belum sesuai dengan yang diharapkan, karena selama mengikuti sekolah atau kursus tentang ilmu elektro, ilmu yang diperoleh hanya berupa teori-teori, sementara itu untuk pelaksanaan praktek akan dilaksanakan di Satuan. Kondisi tsb mengakibatkan pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki sangat terbatas pada pengetahuan yang bersifat teoritis, sehingga untuk menambah pengetahuan yang telah mereka miliki dibutuhkan waktu yang relatif lama, yang dapat diperoleh melalui pengalaman tugas sehari-hari maupun melalui pendidikan non formal yang dilaksanakan di satuan pada waktu-waktu tertentu. Selain hal diatas, ada beberapa tugas tertentu yang harus dilaksanakan oleh seorang personel, karena tidak dibekali dengan kualifikasi pendidikan yang seharusnya dimiliki maka tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya tidak dapat terlaksana secara baik. Kemudian kemampuan berbahasa Inggris yang dimiliki personel yang ada dirasa sangat kurang dalam mendukung tugas-tugas yang diembannya. Kemampuan bahasa Inggris yang kurang merupakan salah satu faktor yang dapat menghambat mereka untuk memahami buku-buku manual yang ada, karena dalam pelaksanaan kegiatan pengoperasian, pemeliharaan dan perbaikan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
2) Jumlah Personel Tidak Sesuai DSP. Satuan Pengguna Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect, dimana personel yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu elektronika baik itu radar maupun komunikasi dalam pelaksanaan operasinya setiap hari melibatkan personel teknik, operasi dan pendukung, yang jumlahnya terbatas sekali, sehingga untuk mengawaki Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect masih melibatkan personel diluar bidang komunikasi dan sangat mempengaruhi dalam pelaksanaan dukungan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect baik itu pengoperasian serta pemeliharaan, sehingga sering terjadi penumpukan tugas yang terjadi dilapangan dan menggangggu jadwal shift operasi maupun kegiatan pemeliharaan yang telah direncanakan oleh satuan.
3) Disiplin dan Kinerja Personil Rendah. Tingkat kedisiplinan dan semangat kerja personil umumnya rendah, sehingga perlu usaha, tindakan, kegiatan untuk membentuk, memelihara serta meningkatkan disiplin berdasarkan ketentuan / peraturan disiplin yang berlaku, yang mana hal ini diakibatkan oleh kejenuhan dalam bertugas, kondisi perekonomian yang tidak stabil, serta kondisi lingkungan yang jauh dari pemenuhan sarana kebutuhan hidup.
b. Sarana Prasarana Belum Optimal. Untuk mendukung penggelaran penggelaran Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect diperlukan adanya sarana prasarana yang lengkap dimana kondisi sarana prasarana Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect saat ini belum optimal dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Peralatan Komunikasi. Kodisi peralatan komunikasi yang tergelar pada satuan radar sudah banyak yang rusak dan kemampuannya untuk penggelaran komunikasi sudah seharusnya sudah diganti karena alat komunikasi kondisinya sudah lama, sehingga tidak dapat di Integrasikan dengan Integrasi komuniksi dengan Inteligent Interconect seperti radio Repeter yang tergelar pada sebagian satrad sudah tidak dapat beroperasi dengan maksimal akibat kemampuannya sudah lama yang seharusnya sudah diganti dan radio VHF/UHF yang tergelar pada satuan satrad kondisinya sangat minim serta kemampuannya sudah tidak maksimal lagi.
2) Sarana SBM K3I. Salah satu sarana kodal utama Kohanudnas adalah SBM K3I alat komunikasi satelit yang khusus dimiliki Kohanudnas untuk mengendalikan satuan jajaranya namun masih ada beberapa satuan radar yang belum tergelar SBM K3I, sehingga untuk mengintegrasikan dengan Inteligent Interconect harus ada sarana SBM K3I yang lebih aman dan bebas dari biaya penggunaan pulsa telekom (T-15) sebagai media transmisi yang dapat menghubungkan antara alat komunikasi yang satu dengan yang lainnya dan bila satuan yang belum tergelar SBM K3I dapat menggunakan alternatif lain yaitu dengan saluran telepon telkom namun membutuhkan biaya penggunaan pulsa cukup banyak.
3) Peralatan Pendukung Terbatas. Guna memperlancar satu kegiatan pemeliharaan tidak lepas dari standart peralatan yang mendukung, salah satunya adalah alat ukur presisi yang digunakan untuk mengukur power, signal dan pulsa dari modul atau card serta komponen-komponen lainnya. Kondisi alat ukur presisi saat ini jumlahnya tidak memenuhi standart kebutuhan pemeliharaan, disamping kualitasnya yang kurang memadai karena degradasi peralatan, juga sudah sangat ketinggalan jaman yang mana akan berpengaruh pada tingkat efisiensi serta efektifitas pemeliharaan. Kemudian peralatan-peralatan pendukung lainnya seperti Tool-Kit belum dilengkapi.
c. Alokasi Integrasi Komuniksi dengan Inteligent Interconect yang Belum Optimal. Untuk mendukung operasi pertahanan udara nasional telah digelar alat komunikasi yang dapat mengintegrasikan beberapa alat komunikasi yaitu di Kohanudnas, CMOB (Communication Monitoring Observasi Vehicle) 2 (dua), Kosekhanudnas 4 (empat), Satrad 7 (tujuh) yang berkemampuan GCI (Ground Control Intercept) dan jajaran yang sudah tergelar jaringan SBM K3I (Stasiun Bumi Mini Komando Kendali Komunikasi dan Informasi) Hanudnas. Untuk mengendalikan seluruh jajaran Kohanudnas belumlah optimal dikarenakan masih ada 10 (sepuluh) Satrad yang belum terintegrasi akibat keterbatasan anggaran serta sarana prasarana.
PERAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI KOHANUDNAS
8. Kesiapan operasional Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi di Kohanudnas serta jajarannya, sehingga memandang perlu memperhatikan peran dan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi turunnya kemampuan peralatan Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi, untuk meningkatkan kesiapan operasional Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi dalam rangka untuk mendukung operasi pertahanan udara nasional. Adapun peran Teknologi Informasi yang harus dilaksanakan adalah :
1) Dapat Mengoperasikan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Menggunakan System Rremote Control. Pada proses pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi pada penyelenggaraan operasi dan latihan dapat dioptimalkan dari sistim manual operator menjadi sistim remote control sehingga tanpa pengawakan personel yang mengatur lalu lintas komunikasi, yaitu dapat melakukan pengecekan,perbaikan, mengganti software atau modul yang lebih efektif, sehingga pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi dapat beroperasi dengan optimal.
2) Dapat Menggunakan, Mengganti, dan Mengadakan Pengecekan Peralatan Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi. Pada pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi dalam mendukung kegiatan operasi dan latihan yang telah dilakukan oleh Kohanudnas sebagai penyelenggara pertahanan udara nasional. Dapat melakukan penggantian software, modul yang lebih efektif, sehingga pada saat proses penyambungan Teknologi Informasi baik itu pada saat terhubung dengan pesawat maupun antara jajaran pengguna tidak terlalu lama sehingga dapat beroperasi dengan optimal.
3) Dapat Melakukan Pengecekan dan Perbaikan Serta Mengganti Software Alkom VHF (Very HighFrequency) Sehingga Pada Saat Terhubung dengan Pesawat Tempur, Output Tidak Mengganggu Alkom Bandara Setempat. Pada saat proses pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect antara Kohanudnas, Kosekhanudnas dan Satrad-satrad dengan pesawat tempur komunikasi dapat mengganggu alat komunikasi bandara udara setempat, sehingga untuk mengoptimalkan Inteligent Interconect dapat melakukan peran pengecekan, perbaikan serta mengganti software dan modul-modul yang digunakan Integrasi komuniksi dengan Teknologi Intercorect sehingga komunikasi dengan pesawat tempur berjalan dengan baik dan proses penyelenggaraan dukungan kodal operasi dan latihan berjalan dengan optimal sehingga dukungan penyelenggaraan sistim pertahanan udara nasional berlangsung dengan optimal.
MANFAAT BAGI TNI ANGKATAN UDARA
9. Kondisi mendatang yang diharapkan terjadi pada Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect yaitu terciptanya suatu Integrasi Komunikasi yang handal dan dapat berfungsi sebagai kodal yang dapat mengatasi permasalahan dibidang komunikasi. Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect yang dapat mendukung penyelenggaraan sistim pertahanan udara nasional. Diharapkan dengan Integrasi komunikasi dengan Intelegent Interconect seluruh satuan jajaran Kohanudnas dapat dikendalikan lewat saran kodal ini guna dapat mendukung dalam rangka mempertahankan kedaulatan wilayah udara nasional terhadap setiap ancaman udara dan terlaksana dengan baik dan optimal. Manfaat Integrasi Komunikasi dengan Intelegent Interconect bagi TNI AU sebagai berikut :
a. Integrasi Komuniksi Dengan Inteligent Interconect Dalam Mendukung Operasi Kohanudnas Sudah Tidak Manual Operator. Kondisi Integrasi Komunikasi dengan Intelegent Interconect guna mendukung tercapainya sistem pertahanan udara nasional diperlukan suatu sistim komunikasi yang dapat mengintegrasikan dari berbagai jenis alat komunikasi seperti yang terdapat di Kohanudnas. Seiring dengan kemajuan teknologi maka sistim Integrasi Komunikasi dengan Intelegent Interconect tersebut semakin meningkat. Kemampuan operasionalnya dengan sistim yang tidak manual lagi, akan tetapi dioptimalkan menjadi sistim otomatis dengan tanpa dikendalikan melalui personel operator yang selalu standby dengan melakukan perubahahan, perbaikan, atau penggantian pada software atau modul yang terdapat pada Inteligent Interconect .
b. Pengoperasian Integrasi Komuniksi Dengan Inteligent Interconect Dengan VHF (Very High Frequency) Output Tidak Mengganggu Alat Komunikasi Luar Khususnya Bandara Setempat. Didalam pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Intelegent Interconect guna mendukung operasi pertahanan udara nasional baik itu kegiatan operasi maupun latihan yang telah dilakukan oleh Kohanudnas sebagai penyelenggara sistim pertahanan udara nasional. Pengoperasian Integrasi komuniksi dengan Intelegent Interconect pada radio GTA VHF (Ground To Air Very High Frequency) pada saat operasi atau latihan output tidak mengganggu lagi alat komunikasi bandara setempat, yaitu dengan melakukan pengecekan, penggantian,perbaikan software serta mengganti/memperbaiki modul / peralatan yang lebih baik lagi sehingga Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect dapat beroperasi dengan optimal.
c. Pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Dengan PABX (Private Automatic Brance Excange) Bisa Kontinyu Tersambung. Didalam pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Integrasi Interconect memerlukan suatu komunikasi satelit(komsat) sebagai media tranmisi yang dapat menghubungkan dengan satuan-satuan jajaran Kohanudnas, sehingga terselenggara suatu dukungan kodal sistim pertahanan udara nasional dengan komsat disambungkan lewat PABX (Private Automatic Brance Excange) dapat dioptimalakan lagi dengan proses penyambungan yang sudah kontinyu, tidak lagi terputus pada saat pengoperasian berlangsung atau selama 3 menit tidak ada voice. Dengan melakukan pengecekan, perbaikan serta penggantian software, module yang dimiliki menjadi lebih baik lagi, sehingga Integrasi komunikasi dengan Inteligent Interconect dapat mendukung terselenggaranya sistim pertahanan udara nasional serta dapat berjalan dengan optimal.
KESIMPULAN DAN SARAN
10. Kesimpulan. Dari seluruh penjabaran naskah Optimalisasi Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect Kohanudnas dalam rangka mendukung operasi pertahanan udara nasional pada masa lima tahun mendatang dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
a. Integrasi Komunikasi dengan Teknologi Informasi saat ini di Kohanudnas masih kurang baik sehingga masih perlu dioptimalkan guna mendukung operasi pertahanan udara nasional, hal ini di tersebut disebabkan karena :
1) Pada saat pengoperasian Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect masih sistem manual operator sehingga memerlukan waktu
2) Pada proses penyambungan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect outputnya dapat mengganggu alat komunikasi dan jalur penerbangan bandara setempat.
3) Pada saat proses penyambungan lewat PABX Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect tidak bisa kontinyu tersambung, dimana bila proses integrasi komunikasi sudah berjalan namun selama tiga menit tidak input maka sistem terputus, sehingga memerlukan waktu lagi untuk melakukan penyambungan lewat operator PABX.
4) Sarana Prasarana Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect masih belum optimal karena peralatan kumunikasi masih minim, kondisinya sudak lama serta sudah banyak yang rusak ,SBM K3I belum semua tergelar sehingga sulit untuk diintegrasikan dengan Inteligent Interconect.
5) Alokasi Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect di Kohanudnas dan Jajarannya saat ini belum optimal karena dari 21 satuan Hanudnas baru tergelar 12 Inteligent Interconect , sehingga untuk mendukung operasi pertahanan udara nasional saat ini belum optimal karena masih ada 10 satuan radar yang belum terintegrasi dengan Inteligent Interconect.
6) Saluran/Slot Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect di Kohanudnas dan Jajarannya saat ini belum optimal karena baru terintegrasi 5 (lima) slot yaitu Radio GTA VHF AM, UHF AM, UHF FM , SBM K3I dan Telepon Telekom (PABX), sehingga untuk mendukung operasi pertahanan udara nasional masih ada radio kodal Kohanudnas yang belum di integrasikan yaitu radio HF SSB.
b. Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect di Kohanudnas dapat dioptimalkan dengan melakukan peran secara sinergi dari semuah pihak yang terlibat.
11. Saran. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik dari Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect guna mendukung operasi pertahanan udara nasional, maka disarankan untuk :
a. Mensosialisasikan penggunaan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent
Interconect kepada satuan pengguna.
b. Memamfaatkan sarana Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect sebagai sarana komunikasi utama.
c. Mengupayakan agar radio HF SSB diintegrasikan dengan Integrasi Komunikasi dengan Inteligent Interconect.
PENUTUP
11. Demikian naskah ini dibuat sebagai bahan masukan kepada Pimpinan sebagai pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan Operasi Pertahanan Udara Nasional Indonesia.
Selasa, 17 November 2009
Minggu, 01 November 2009
Tugas Komunikasi Massa Sekkau 86
KOMANDO PENDIDIKAN ANGKATAN UDARA
SEKOLAH KOMANDO KESATUAN
JAWABAN TUGAS STUDI KEPUSTAKAAN
KOMUNIKASI MASSA
1. Penjelasan Secara Detil Tentang Surat Kabar Media Indonesia dan Seputar Indonesia :
Surat Kabar Media Indonesia
Media Indonesia pertama kali diterbitkan pada tanggal 19 January 1970. Sebagai surat kabar umum pada masa itu, Media Indonesia baru bisa terbit 4 halaman dengan tiras yang amat terbatas. Berkantor di Jl. MT. Haryono, Jakarta, disitulah sejarah panjang Media Indonesia berawal. Lembaga yang menerbitkan Media Indonesia adalah Yayasan Warta Indonesia. Tahun 1976, surat kabar ini kemudian berkembang menjadi 8 halaman.
Sementara itu perkembangan regulasi di bidang pers dan penerbitan terjadi. Salah satunya adalah perubahan SIT (Surat Izin Terbit) menjadi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Karena perubahan ini penerbitan dihadapkan pada realitas bahwa pers tidak semata menanggung beban idealnya tapi juga harus tumbuh sebagai badan usaha. Dengan kesadaran untuk terus maju, pada tahun 1988 Teuku Yousli Syah selaku pendiri Media Indonesia bergandeng tangan dengan Surya Paloh, mantan pimpinan surat kabar Prioritas. Dengan kerjasama ini, dua kekuatan bersatu kekuatan pengalaman bergandeng dengan kekuatan modal dan semangat. Maka pada tahun tersebut lahirlah Media Indonesia dengan manajemen baru dibawah PT. Citra Media Nusa Purnama.
Surya Paloh sebagai Direktur Utama sedangkan Teuku Yousli Syah sebagai Pemimpin Umum, dan Pemimpin Perusahaan dipegang oleh Lestary Luhur. Sementara itu, markas usaha dan redaksi dipindahkan ke Jl. Gondandia Lama No. 46 Jakarta.
Awal tahun 1995, bertepatan dengan usianya ke 25 Media Indonesia menempati kantor Jakarta Barat. barunya di Komplek Delta Kedoya, Jl. Pilar Mas Raya Kav.A-D, Kedoya Selatan. Sejak Media Indonesia ditangani oleh tim manajemen baru di bawah payung PT. Citra Media Nusa Purnama, banyak pertanyaan tentang apa yang menjadi visi harian ini dalam industri pers nasional. Terjun pertama kali dalam industri pers tahun
1986 dengan menerbitkan harian Prioritas. Namun Prioritas memang kurang bernasib baik, karena belum cukup lama menjadi koran alternatif bangsa, SIUPP-nya dibatalkan Departemen Penerangan.
Surya Paloh sebagai penerbit Harian Umum Media Indonesia, tetap gigih berjuang mempertahankan kebebasan pers. Wujud kegigihan ini ditunjukkan dengan mengajukan kasus penutupan Harian Prioritas ke pengadilan, bahkan menuntut Menteri Penerangan untuk mencabut Peraturan Menteri No.01/84 yang dirasakan membelenggu kebebasan pers di tanahair.
Berdasarkan Pasal 4A ayat (3) Peraturan Presiden No.8 Tahun 2006, Harian Umum Media Indonesia terpilih sebagai tempat mengumumkan pelelangan umum dan pelelangan terbatas untuk pengadaan barang, jasa pemborongan dan jasa lainnya yang nilainya di atas Rp1 milyar dan seleksi umum dan seleksi terbatas untuk pengadaan jasa konsultansi yang nilainya di atas Rp200 juta. Melalui Lelang, Media Indonesia Terpilih Menjadi Surat Kabar Nasional Tempat Pengumuman Pelelangan.
Surat Kabar Seputar Indonesia (SINDO)
Pemimpin Umum koran Sindo Hary Tanoesoedibjo, Wakil Pemimpin Umum/ Pemimpin Perusahaan Syafril Nasution Wakil Pemimpin Perusahaan David Fernando Audy. Pemimpin Redaksi /Penanggungjawab Sururi Alfaruq.
Koran Seputar Indonesia terbit perdana, pada 30 Juni 2005. Dilahirkan oleh PT Media Nusantara Informasi (MNI), sub-sidiary dari PT. Media Nusantara Citra (MNC) yang menaungi RCTI, TPI, Global TV dan Trijaya Network. Sebagai surat kabar baru. Koran ini ditujukan untuk memudahkan sekaligus memenuhi kebutuhan pembaca dalam satu keluarga. Pada saat sang Bapak memilih news, sang Ibu bisa leluasa membaca lifestyle, sedangkan si Anak bebas membaca sport. Atau sang Bapak bisa membawa news ke kantor dengan meninggalkan lifestyle untuk dibaca Ibu di rumah, sementara si Anak memasukkan sport ke dalam tas untuk dibaca dalam perjalanan. Pendeknya, mereka bisa bertukar section tanpa harus mengganggu keasyikan masing-masing. Hal ini sesuai dengan slogan Koran Sindo yang berbunyi “Satu Koran Segala Berita”. Sehingga cukup satu koran untuk satu keluarga.
Di dalam manajemennya, ada pemimpin Koran Sindo, ada manajer bagian produksi, redaksi, keuangan, pemasaran, periklanan, editing dan lain-lain. Ada juga bagian Pencari berita, menggolah berita dan proses pencetakannya. Proses pencetakan Koran Sindo dimulai dari pembuatan layout koran dalam bentuk mika film, pembuatan plat film untuk mencetak, hingga proses mencetak Koran menggunakan mesin-mesin pencetak yang besar.
2. Persfektif Teori “Agenda Setting”
Berbicara perspektif agenda setting theory sebenarnya merupakan model efek moderat . Ini dikembangkan oleh Maxwell E. McComb dan Donald L Shaw. Menurut Jalaluddin Rakhmat (1997) Perspektif ini menghidupkan kembali model jarum hipodermik, tetapi dengan fokus penelitian yang telah bergeser. Dari efek pada sikap dan pendapat bergeser kepada efek pada kesadaran dan pengetahuan atau dari afektif ke kognitif. Prinsipnya sebenarnya “to tell what to think about” artinya membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Dengan teknik pemilihan dan penonjolan media memberikan cues tentang mana issue yang lebih penting. Karena itu, model agenda setting mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media kepada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak kepada persoalan itu.
Singkatnya apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Begitu juga sebaliknya apa yang dilupakan media, akan luput juga dari perhatian masyarakat.
Teori Penentuan Agenda (bahasa Inggris: Agenda Setting Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.
Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang penentuan agenda adalah:
a. Masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu.
b. Konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain.
Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan agenda adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal.
"Pers mungkin tidak berhasil banyak waktu dalam menceritakan orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil mengalihkan para pemirsa dalam berpikir tentang apa" - Bernard C. Cohen, 1963.
Asumsi dasar teori ini adalah “membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Topik yang lebih banyak mendapat perhatian dari media massa akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya, akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu, dan akan terjadi sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media massa.
Ternyata ada hubungan antara media massa, dampak yang diakibatkan dengan para khalayaknya. Media massa setidaknya menjadi sumber komunikasi. Dampak media massa lebih dilihat sebagai dampak kognitif kepada masyarakat. Khalayak sendiri merupakan komunikan yang mengkonsumsi hasil rekonstruksi realitas yang dibikin oleh media massa. Media massa pemberitaan diyakini oleh banyak orang (termasuk banyak pembuat keputusan) sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya. Dengan kata lain, bahwa media massa mempunyai potensi untuk mempengaruhi opini atau agenda publik melalui proses priming dan framing yang dilakukan oleh media massa dalam hal ini pemberitaan yang dibuat. Pemberitaan adalah hasil atau output dari agenda yang dibuat oleh para awak media. Tentu saja, terdapat interaksi antara media massa dengan publiknya terlebih dahulu. Agenda media yang diterjemahkan oleh para redaksi dan wartawan tersebut “disuntikkan” kepada khalayak yang pada akhirnya sedemikian rupa membentuk agenda publik.
Media massa memiliki kemampuan untuk memberitahukan kepada masyarakat atau khalayak tentang isu-isu tertentu yang dianggap penting dan kemudian khalayak tidak hanya mempelajar dan memahami isu-isu pemberitaan tapi juga seberapa penting
arti suatu isu atau topik berdasarkan cara media massa memberikan penekanan terhadap
isu tersebut. Jadi apa yang dianggap penting dan menjadi agenda media maka itu pulalah yang juga dianggap penting dan menjadi media bagi khalayak.
Media melakukan seleksi sebelum melaporkan berita kemudian melakukan gatekeeping terhadap informasi dan akan membuat pilihan apa saja yang akan diberitakan dan tidak. Apa yang diketahui oleh khalayak pada umumnya merupakan hasil dari media gate keeping.
Ada 3 proses agenda setting :
a. Media Agenda - dimana isu didiskusikan dalam media
b. Public Agenda - ketika isu didiskusikan dan secara pribadi sesuai dengan khalayak
c. Policy Agenda - pada saat para pembuat kebijaksanaan menyadari pentingnya isu tersebut
Jadi media massa mempunyai kemampuan untuk memilih dan menekankan topik
tertentu yang dianggapnya penting (menetapkan agenda) sehingga membuat publik berpikir bahwa isu yang dipilih media itu penting. Studi tentang agenda setting ini kebanyakan dilakukan menjelang kampanye politik.
Untuk mengetahui apakah suatu isu dianggap penting atau menjadi agenda media dapat diketahui dengan cara melakukan analisis isi media (Content Analysis). Sedangkan untuk mengetahui isu yang menjadi agenda publik dan dianggap penting oleh khalayak adalah dengan melakukan penelitian survey khalayak.
a. Analisis Isi Media, dilakukan dengan cara memfokuskan pada sejumlah isu yang menonjol (issue salience), misalnya tentang peristiwa, tokoh atau organisasi tertentu. Kemudian yang menjadi unit analisisnya bisa dalam bentuk berita atau artikel, kalimat, katakata maupun gambar atau foto yang disampaikan media. Setelah itu ukur frekuensi berapa kali pemunculan atau volume pemuatan berita tersebut, misalnya kolom inci untuk media cetak dan durasi penayangan untuk media tv dan radio. Kemudian buat analisa agenda media berdasarkan urutan frekuensi atau pemunculan isu tersebut dimedia.
b. Survey Khalayak, dapat dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan atau questioner baik terbuka maupun tertutup kepada sejumlah responden tentang
pendapat pribadi responden khalayak tentang suatu isu (intrapersonal agenda).
Pendapat responden tentang hal-hal yang sering dikomunikasikan dengan teman, kolega, tetangga, dan sebagainya (interpersonal agenda).
c. Pendapat responden tentang hal-hal yang menurutnya sering dibicarakan orang-orang atau komunitas disekitarnya. (community agenda)
Setelah itu jawaban khalayak dianalisa, berita atau isu-isu apa saja yang menjadi agenda publik.
Agenda setting menggambarkan kekuatan pengaruh media yang sangat kuat dalam pembentukan opini masyarakat. Media massa mempunyai kemampuan untuk memilih dan menekankan topik tertentu yang dianggapnya penting (menetapkan agenda/agenda media) sehingga membuat publik berpikir bahwa isi yang dipilih media itu penting dan menjadi agenda publik. Menurut teori Agenda Setting ada 3 proses agenda setting yakni media agenda, public agenda dan policy agenda, berikut analisa isu tersebut menurut proses terjadinya agenda setting.
Dari beberapa asumsi mengenai efekkomunikasi massa, teori agenda settinglah salah satu teori yang terus bertahan dan berkembang. Menurut teori agenda setting , media massa dapat mempengaruhi agenda publik atau masyarakat. Dari berbagai topik yang dimuat dimedia massa, topik yang mendapat perhatian lebih banyak dari medialah yang akan menjadi lebih akrab bagi masyarakat dan dianggap penting pada periode tertentu. Hal ini terbukti pada kasus prokontra iklan poltik PKS tentang kepahlawanan.
3. Studi Kasus. Pada acara sertijab Kasau (bintang empat), Dispenau mengundang wartawan untuk meliput kegiatan yang tentu saja menurut kalangan TNI AU
sangat penting. Namun ternyata jumlah wartawan yang hadir jauh lebih banyak pada acara sertijab Kapolda Jaya (bintang dua).
Analisis mengapa hal tersebut bisa terjadi adalah sebagai berikut :
a. Faktor Kedekatan. Para pejabat di lingkungan TNI AU boleh dikatakan sangat jauh hubungannya dengan para wartawan. Hal ini secara psikologis juga akan sangat berpengaruh terhadap pemuatan berita.
b. Faktor Kepentingan. Banyak sekali unsur-unsur masyarakat yang sangat berkepentingan terhadap pejabat kepolisian maupun pejabat pemerintah, karena bersinggungan langsung dengan berbagai kebutuhan mereka. Hal ini berbeda jauh dengan pejabat TNI AU yang tidak bersinggungan langsung dengan kepentingan masyarakat.
c. Faktor Pembinaan Bidang Penerangan/Humas. Di instansi kepolisian maupun pemerintah daerah, fungsi bagian penerangan atau humas sangat diperhatikan pembinaannya, sehingga mereka lebih mudah mengadakan penggalangan terhadap media massa.
d. Faktor Dampak / Efek Yang Ditimbulkan. Sertijab di kalangan pejabat TNI AU hanya lebih bersifat seremonial dan rutinitas belaka, tanpa menimbulkan efek yang langsung berdampak pada kehidupan masyarakat. Berbeda dengan sertijab pejabat kepolisian atau pemerintah daerah yang kebijakannya akan dapat dirasakan secara langsung pada kehidupan masyarakat.
e. Faktor Keamanan. Di instansi militer biasanya keamanan lebih menjadi prioritas, dalam hal peliputan wartawan diwajibkan untuk mempunyai tanda pengenal atau tanda masuk, sehingga dalam sertijab Kasau wartawan tidak sebanyak pada sertijab Kapolda, dimana pada sertijab Kapolda wartawan sudah terbiasa meliputi setiap kegiatan kerja mereka tanpa perlu tanda pengenal atau tanda masuk.
f. Faktor Kebutuhan. Di instansi kepolisian setiap kegiatan selalu bekerjasama dengan wartawan, seperti kegiatan tindakan penangkapan gembong
teroris, acara patroli, sergap dan lain lain, dimana wartawan membutuhkan berita yang didapat dari kepolisian, polisi membutuhkan wartawan untuk publikasi, sementara TNI AU dalam setiap kegiatannya jarang bekerjasama dengan wartawan. Hal ini berpengaruh dalam acara sertijab Kasau maupun Kapolda.
4. Topik atau issue di lingkungan TNI AU yang bisa “dijual” kepada media sehingga kegiatan TNI AU banyak diliput oleh media :
a. Kegiatan olah raga dirgantara yang digabung dengan promosi pariwisata. Sebagai contoh, kegiatan ini pernah dilaksanakan di Pulau Samosir Sumatera Utara, dimana pernah diadakan kejuaraan nasional olah raga dirgantara yang melibatkan FASI, Binpotdirga dan pemerintah daerah setempat.
b. Kegiatan latihan, baik mandiri maupun gabungan. Seperti pernah dilaksanakan Air Fire Demo di AWR Budding Tanjung Pandan yang cukup menyedot perhatian masyarakat dan kalangan wartawan baik cetak maupun elektronik.
c. Kegiatan ulang tahun TNI AU yang dimeriahkan dengan demo dari Tim Aerobatik yang pernah diadakan tahun 2001 di Lanud Halim Perdanakusuma.
d. Kegiatan perencanaan penggantian alutsista pesawat tempur, seperti rencana penambahan pesawat Sukhoi dan penggantian pesawat OV-10 Bronco yang sering diulas di media massa.
e. Kegiatan hiburan di wilayah pangkalan udara yang melibatkan artis nasional.
f. Penggunaan alutsista maupun pelibatan personel TNI AU dalam kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana alam baik di dalam maupun di luar negeri.
g. Kunjungan anak-anak sekolah ke instalasi TNI AU seperti simulator pesawat terbang.
Langkah-langkah yang harus dilakukan sehingga TNI AU makin populer di tengah masyarakat :
a. Membuka tempat wisata (hiburan) di sekitar Lanud, seperti yang terjadi di Lanud Medan, di mana masyarakat sangat antusias untuk berkunjung. Terbukti setiap sore hari selalu ramai dikunjungi masyarakat.
b. Mengadakan acara drag race, konser musik yang bersifat nasional dan semacamnya di sekitar Lanud seperti yang sering dilaksanakan di Lanud Atang Sendjaja dan Lanud Medan.
c. Mengadakan konser musik yang bersifat nasional seperti pernah terjadi di Lanud Pekanbaru dan Lanud Medan.
d. Membuka pelatihan olah raga dirgantara yang murah bagi masyarakat.
e. Sering mengisi acara semacam “target dan strategi” yang menampilkan profil satuan-satuan di jajaran TNI AU.
f. Mengirimkan iklan tentang penerimaan prajurit TNI AU sampai ke pelosok-pelosok pedesaan.
g. Mengadakan bhakti sosial seperti sunat massal, pengobatan gratis dan kunjungan ke panti sosial.
h. Membuka rumah sakit yang terjangkau bagi masyarakat umum.
i. Mensosialisasikan / mempromosikan museum TNI AU yang terdapat di Yogyakarta.
j. Mengadakan pembinaan Saka Dirgantara kepada pramuka dan para remaja.
Jakarta, Oktober 2009
Perwira Siswa
Azizah Sauri Thaib, AmAK
Kapten Kes NRP 524512
SEKOLAH KOMANDO KESATUAN
JAWABAN TUGAS STUDI KEPUSTAKAAN
KOMUNIKASI MASSA
1. Penjelasan Secara Detil Tentang Surat Kabar Media Indonesia dan Seputar Indonesia :
Surat Kabar Media Indonesia
Media Indonesia pertama kali diterbitkan pada tanggal 19 January 1970. Sebagai surat kabar umum pada masa itu, Media Indonesia baru bisa terbit 4 halaman dengan tiras yang amat terbatas. Berkantor di Jl. MT. Haryono, Jakarta, disitulah sejarah panjang Media Indonesia berawal. Lembaga yang menerbitkan Media Indonesia adalah Yayasan Warta Indonesia. Tahun 1976, surat kabar ini kemudian berkembang menjadi 8 halaman.
Sementara itu perkembangan regulasi di bidang pers dan penerbitan terjadi. Salah satunya adalah perubahan SIT (Surat Izin Terbit) menjadi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Karena perubahan ini penerbitan dihadapkan pada realitas bahwa pers tidak semata menanggung beban idealnya tapi juga harus tumbuh sebagai badan usaha. Dengan kesadaran untuk terus maju, pada tahun 1988 Teuku Yousli Syah selaku pendiri Media Indonesia bergandeng tangan dengan Surya Paloh, mantan pimpinan surat kabar Prioritas. Dengan kerjasama ini, dua kekuatan bersatu kekuatan pengalaman bergandeng dengan kekuatan modal dan semangat. Maka pada tahun tersebut lahirlah Media Indonesia dengan manajemen baru dibawah PT. Citra Media Nusa Purnama.
Surya Paloh sebagai Direktur Utama sedangkan Teuku Yousli Syah sebagai Pemimpin Umum, dan Pemimpin Perusahaan dipegang oleh Lestary Luhur. Sementara itu, markas usaha dan redaksi dipindahkan ke Jl. Gondandia Lama No. 46 Jakarta.
Awal tahun 1995, bertepatan dengan usianya ke 25 Media Indonesia menempati kantor Jakarta Barat. barunya di Komplek Delta Kedoya, Jl. Pilar Mas Raya Kav.A-D, Kedoya Selatan. Sejak Media Indonesia ditangani oleh tim manajemen baru di bawah payung PT. Citra Media Nusa Purnama, banyak pertanyaan tentang apa yang menjadi visi harian ini dalam industri pers nasional. Terjun pertama kali dalam industri pers tahun
1986 dengan menerbitkan harian Prioritas. Namun Prioritas memang kurang bernasib baik, karena belum cukup lama menjadi koran alternatif bangsa, SIUPP-nya dibatalkan Departemen Penerangan.
Surya Paloh sebagai penerbit Harian Umum Media Indonesia, tetap gigih berjuang mempertahankan kebebasan pers. Wujud kegigihan ini ditunjukkan dengan mengajukan kasus penutupan Harian Prioritas ke pengadilan, bahkan menuntut Menteri Penerangan untuk mencabut Peraturan Menteri No.01/84 yang dirasakan membelenggu kebebasan pers di tanahair.
Berdasarkan Pasal 4A ayat (3) Peraturan Presiden No.8 Tahun 2006, Harian Umum Media Indonesia terpilih sebagai tempat mengumumkan pelelangan umum dan pelelangan terbatas untuk pengadaan barang, jasa pemborongan dan jasa lainnya yang nilainya di atas Rp1 milyar dan seleksi umum dan seleksi terbatas untuk pengadaan jasa konsultansi yang nilainya di atas Rp200 juta. Melalui Lelang, Media Indonesia Terpilih Menjadi Surat Kabar Nasional Tempat Pengumuman Pelelangan.
Surat Kabar Seputar Indonesia (SINDO)
Pemimpin Umum koran Sindo Hary Tanoesoedibjo, Wakil Pemimpin Umum/ Pemimpin Perusahaan Syafril Nasution Wakil Pemimpin Perusahaan David Fernando Audy. Pemimpin Redaksi /Penanggungjawab Sururi Alfaruq.
Koran Seputar Indonesia terbit perdana, pada 30 Juni 2005. Dilahirkan oleh PT Media Nusantara Informasi (MNI), sub-sidiary dari PT. Media Nusantara Citra (MNC) yang menaungi RCTI, TPI, Global TV dan Trijaya Network. Sebagai surat kabar baru. Koran ini ditujukan untuk memudahkan sekaligus memenuhi kebutuhan pembaca dalam satu keluarga. Pada saat sang Bapak memilih news, sang Ibu bisa leluasa membaca lifestyle, sedangkan si Anak bebas membaca sport. Atau sang Bapak bisa membawa news ke kantor dengan meninggalkan lifestyle untuk dibaca Ibu di rumah, sementara si Anak memasukkan sport ke dalam tas untuk dibaca dalam perjalanan. Pendeknya, mereka bisa bertukar section tanpa harus mengganggu keasyikan masing-masing. Hal ini sesuai dengan slogan Koran Sindo yang berbunyi “Satu Koran Segala Berita”. Sehingga cukup satu koran untuk satu keluarga.
Di dalam manajemennya, ada pemimpin Koran Sindo, ada manajer bagian produksi, redaksi, keuangan, pemasaran, periklanan, editing dan lain-lain. Ada juga bagian Pencari berita, menggolah berita dan proses pencetakannya. Proses pencetakan Koran Sindo dimulai dari pembuatan layout koran dalam bentuk mika film, pembuatan plat film untuk mencetak, hingga proses mencetak Koran menggunakan mesin-mesin pencetak yang besar.
2. Persfektif Teori “Agenda Setting”
Berbicara perspektif agenda setting theory sebenarnya merupakan model efek moderat . Ini dikembangkan oleh Maxwell E. McComb dan Donald L Shaw. Menurut Jalaluddin Rakhmat (1997) Perspektif ini menghidupkan kembali model jarum hipodermik, tetapi dengan fokus penelitian yang telah bergeser. Dari efek pada sikap dan pendapat bergeser kepada efek pada kesadaran dan pengetahuan atau dari afektif ke kognitif. Prinsipnya sebenarnya “to tell what to think about” artinya membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Dengan teknik pemilihan dan penonjolan media memberikan cues tentang mana issue yang lebih penting. Karena itu, model agenda setting mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian yang diberikan media kepada suatu persoalan dengan perhatian yang diberikan khalayak kepada persoalan itu.
Singkatnya apa yang dianggap penting oleh media, akan dianggap penting pula oleh masyarakat. Begitu juga sebaliknya apa yang dilupakan media, akan luput juga dari perhatian masyarakat.
Teori Penentuan Agenda (bahasa Inggris: Agenda Setting Theory) adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.
Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang penentuan agenda adalah:
a. Masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu.
b. Konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain.
Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep penentuan agenda adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal.
"Pers mungkin tidak berhasil banyak waktu dalam menceritakan orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil mengalihkan para pemirsa dalam berpikir tentang apa" - Bernard C. Cohen, 1963.
Asumsi dasar teori ini adalah “membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Topik yang lebih banyak mendapat perhatian dari media massa akan menjadi lebih akrab bagi pembacanya, akan dianggap penting dalam suatu periode waktu tertentu, dan akan terjadi sebaliknya bagi topik yang kurang mendapat perhatian media massa.
Ternyata ada hubungan antara media massa, dampak yang diakibatkan dengan para khalayaknya. Media massa setidaknya menjadi sumber komunikasi. Dampak media massa lebih dilihat sebagai dampak kognitif kepada masyarakat. Khalayak sendiri merupakan komunikan yang mengkonsumsi hasil rekonstruksi realitas yang dibikin oleh media massa. Media massa pemberitaan diyakini oleh banyak orang (termasuk banyak pembuat keputusan) sebagai sumber informasi yang dapat dipercaya. Dengan kata lain, bahwa media massa mempunyai potensi untuk mempengaruhi opini atau agenda publik melalui proses priming dan framing yang dilakukan oleh media massa dalam hal ini pemberitaan yang dibuat. Pemberitaan adalah hasil atau output dari agenda yang dibuat oleh para awak media. Tentu saja, terdapat interaksi antara media massa dengan publiknya terlebih dahulu. Agenda media yang diterjemahkan oleh para redaksi dan wartawan tersebut “disuntikkan” kepada khalayak yang pada akhirnya sedemikian rupa membentuk agenda publik.
Media massa memiliki kemampuan untuk memberitahukan kepada masyarakat atau khalayak tentang isu-isu tertentu yang dianggap penting dan kemudian khalayak tidak hanya mempelajar dan memahami isu-isu pemberitaan tapi juga seberapa penting
arti suatu isu atau topik berdasarkan cara media massa memberikan penekanan terhadap
isu tersebut. Jadi apa yang dianggap penting dan menjadi agenda media maka itu pulalah yang juga dianggap penting dan menjadi media bagi khalayak.
Media melakukan seleksi sebelum melaporkan berita kemudian melakukan gatekeeping terhadap informasi dan akan membuat pilihan apa saja yang akan diberitakan dan tidak. Apa yang diketahui oleh khalayak pada umumnya merupakan hasil dari media gate keeping.
Ada 3 proses agenda setting :
a. Media Agenda - dimana isu didiskusikan dalam media
b. Public Agenda - ketika isu didiskusikan dan secara pribadi sesuai dengan khalayak
c. Policy Agenda - pada saat para pembuat kebijaksanaan menyadari pentingnya isu tersebut
Jadi media massa mempunyai kemampuan untuk memilih dan menekankan topik
tertentu yang dianggapnya penting (menetapkan agenda) sehingga membuat publik berpikir bahwa isu yang dipilih media itu penting. Studi tentang agenda setting ini kebanyakan dilakukan menjelang kampanye politik.
Untuk mengetahui apakah suatu isu dianggap penting atau menjadi agenda media dapat diketahui dengan cara melakukan analisis isi media (Content Analysis). Sedangkan untuk mengetahui isu yang menjadi agenda publik dan dianggap penting oleh khalayak adalah dengan melakukan penelitian survey khalayak.
a. Analisis Isi Media, dilakukan dengan cara memfokuskan pada sejumlah isu yang menonjol (issue salience), misalnya tentang peristiwa, tokoh atau organisasi tertentu. Kemudian yang menjadi unit analisisnya bisa dalam bentuk berita atau artikel, kalimat, katakata maupun gambar atau foto yang disampaikan media. Setelah itu ukur frekuensi berapa kali pemunculan atau volume pemuatan berita tersebut, misalnya kolom inci untuk media cetak dan durasi penayangan untuk media tv dan radio. Kemudian buat analisa agenda media berdasarkan urutan frekuensi atau pemunculan isu tersebut dimedia.
b. Survey Khalayak, dapat dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan atau questioner baik terbuka maupun tertutup kepada sejumlah responden tentang
pendapat pribadi responden khalayak tentang suatu isu (intrapersonal agenda).
Pendapat responden tentang hal-hal yang sering dikomunikasikan dengan teman, kolega, tetangga, dan sebagainya (interpersonal agenda).
c. Pendapat responden tentang hal-hal yang menurutnya sering dibicarakan orang-orang atau komunitas disekitarnya. (community agenda)
Setelah itu jawaban khalayak dianalisa, berita atau isu-isu apa saja yang menjadi agenda publik.
Agenda setting menggambarkan kekuatan pengaruh media yang sangat kuat dalam pembentukan opini masyarakat. Media massa mempunyai kemampuan untuk memilih dan menekankan topik tertentu yang dianggapnya penting (menetapkan agenda/agenda media) sehingga membuat publik berpikir bahwa isi yang dipilih media itu penting dan menjadi agenda publik. Menurut teori Agenda Setting ada 3 proses agenda setting yakni media agenda, public agenda dan policy agenda, berikut analisa isu tersebut menurut proses terjadinya agenda setting.
Dari beberapa asumsi mengenai efekkomunikasi massa, teori agenda settinglah salah satu teori yang terus bertahan dan berkembang. Menurut teori agenda setting , media massa dapat mempengaruhi agenda publik atau masyarakat. Dari berbagai topik yang dimuat dimedia massa, topik yang mendapat perhatian lebih banyak dari medialah yang akan menjadi lebih akrab bagi masyarakat dan dianggap penting pada periode tertentu. Hal ini terbukti pada kasus prokontra iklan poltik PKS tentang kepahlawanan.
3. Studi Kasus. Pada acara sertijab Kasau (bintang empat), Dispenau mengundang wartawan untuk meliput kegiatan yang tentu saja menurut kalangan TNI AU
sangat penting. Namun ternyata jumlah wartawan yang hadir jauh lebih banyak pada acara sertijab Kapolda Jaya (bintang dua).
Analisis mengapa hal tersebut bisa terjadi adalah sebagai berikut :
a. Faktor Kedekatan. Para pejabat di lingkungan TNI AU boleh dikatakan sangat jauh hubungannya dengan para wartawan. Hal ini secara psikologis juga akan sangat berpengaruh terhadap pemuatan berita.
b. Faktor Kepentingan. Banyak sekali unsur-unsur masyarakat yang sangat berkepentingan terhadap pejabat kepolisian maupun pejabat pemerintah, karena bersinggungan langsung dengan berbagai kebutuhan mereka. Hal ini berbeda jauh dengan pejabat TNI AU yang tidak bersinggungan langsung dengan kepentingan masyarakat.
c. Faktor Pembinaan Bidang Penerangan/Humas. Di instansi kepolisian maupun pemerintah daerah, fungsi bagian penerangan atau humas sangat diperhatikan pembinaannya, sehingga mereka lebih mudah mengadakan penggalangan terhadap media massa.
d. Faktor Dampak / Efek Yang Ditimbulkan. Sertijab di kalangan pejabat TNI AU hanya lebih bersifat seremonial dan rutinitas belaka, tanpa menimbulkan efek yang langsung berdampak pada kehidupan masyarakat. Berbeda dengan sertijab pejabat kepolisian atau pemerintah daerah yang kebijakannya akan dapat dirasakan secara langsung pada kehidupan masyarakat.
e. Faktor Keamanan. Di instansi militer biasanya keamanan lebih menjadi prioritas, dalam hal peliputan wartawan diwajibkan untuk mempunyai tanda pengenal atau tanda masuk, sehingga dalam sertijab Kasau wartawan tidak sebanyak pada sertijab Kapolda, dimana pada sertijab Kapolda wartawan sudah terbiasa meliputi setiap kegiatan kerja mereka tanpa perlu tanda pengenal atau tanda masuk.
f. Faktor Kebutuhan. Di instansi kepolisian setiap kegiatan selalu bekerjasama dengan wartawan, seperti kegiatan tindakan penangkapan gembong
teroris, acara patroli, sergap dan lain lain, dimana wartawan membutuhkan berita yang didapat dari kepolisian, polisi membutuhkan wartawan untuk publikasi, sementara TNI AU dalam setiap kegiatannya jarang bekerjasama dengan wartawan. Hal ini berpengaruh dalam acara sertijab Kasau maupun Kapolda.
4. Topik atau issue di lingkungan TNI AU yang bisa “dijual” kepada media sehingga kegiatan TNI AU banyak diliput oleh media :
a. Kegiatan olah raga dirgantara yang digabung dengan promosi pariwisata. Sebagai contoh, kegiatan ini pernah dilaksanakan di Pulau Samosir Sumatera Utara, dimana pernah diadakan kejuaraan nasional olah raga dirgantara yang melibatkan FASI, Binpotdirga dan pemerintah daerah setempat.
b. Kegiatan latihan, baik mandiri maupun gabungan. Seperti pernah dilaksanakan Air Fire Demo di AWR Budding Tanjung Pandan yang cukup menyedot perhatian masyarakat dan kalangan wartawan baik cetak maupun elektronik.
c. Kegiatan ulang tahun TNI AU yang dimeriahkan dengan demo dari Tim Aerobatik yang pernah diadakan tahun 2001 di Lanud Halim Perdanakusuma.
d. Kegiatan perencanaan penggantian alutsista pesawat tempur, seperti rencana penambahan pesawat Sukhoi dan penggantian pesawat OV-10 Bronco yang sering diulas di media massa.
e. Kegiatan hiburan di wilayah pangkalan udara yang melibatkan artis nasional.
f. Penggunaan alutsista maupun pelibatan personel TNI AU dalam kegiatan-kegiatan penanggulangan bencana alam baik di dalam maupun di luar negeri.
g. Kunjungan anak-anak sekolah ke instalasi TNI AU seperti simulator pesawat terbang.
Langkah-langkah yang harus dilakukan sehingga TNI AU makin populer di tengah masyarakat :
a. Membuka tempat wisata (hiburan) di sekitar Lanud, seperti yang terjadi di Lanud Medan, di mana masyarakat sangat antusias untuk berkunjung. Terbukti setiap sore hari selalu ramai dikunjungi masyarakat.
b. Mengadakan acara drag race, konser musik yang bersifat nasional dan semacamnya di sekitar Lanud seperti yang sering dilaksanakan di Lanud Atang Sendjaja dan Lanud Medan.
c. Mengadakan konser musik yang bersifat nasional seperti pernah terjadi di Lanud Pekanbaru dan Lanud Medan.
d. Membuka pelatihan olah raga dirgantara yang murah bagi masyarakat.
e. Sering mengisi acara semacam “target dan strategi” yang menampilkan profil satuan-satuan di jajaran TNI AU.
f. Mengirimkan iklan tentang penerimaan prajurit TNI AU sampai ke pelosok-pelosok pedesaan.
g. Mengadakan bhakti sosial seperti sunat massal, pengobatan gratis dan kunjungan ke panti sosial.
h. Membuka rumah sakit yang terjangkau bagi masyarakat umum.
i. Mensosialisasikan / mempromosikan museum TNI AU yang terdapat di Yogyakarta.
j. Mengadakan pembinaan Saka Dirgantara kepada pramuka dan para remaja.
Jakarta, Oktober 2009
Perwira Siswa
Azizah Sauri Thaib, AmAK
Kapten Kes NRP 524512
Langganan:
Komentar (Atom)
